Yang Terjadi Pada Tubuh Anda Setelah Meninggal

6:47 PM

Apakah yang terjadi pada tubuh anda setelah meinggal? Sesaat sebelum  meninggal, Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin di telinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.

0 Menit 
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

1 Menit
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

4 - 5 Menit
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.

7 - 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati.

1 - 4 Jam
Rigor Mortis(Fase Dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

4 - 6 Jam 
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

6 Jam 
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.

8 Jam 
Suhu tubuh langsung menurun drastis.

24 - 72 Jam 
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.

36 - 48 Jam 
Rigor Mortis Berhenti, Tubuh anda selentur penari balerina.

3 - 5 Hari 
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

8 - 10 Hari 
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

Beberapa Minggu 
Rambut, Kuku, Dan Gigi dengan mudahnya terlepas.

Satu Bulan 
Kulit Anda mulai mencair.

Satu Tahun 
Selain tulang-belulang tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh anda. Sekarang Anda adalah saingan Twiggy dan Calista Flockhart.

Lima Tahun
???

Wallahu a'lam


Email Favorit Anda Kini Lebih Cepat, Aman, dan Mudah Digunakan

9:56 AM

Yahoo! sebagai salah satu provider berbagai layanan online terbesar di jagat internet baru saja memperkenalkan versi terbaru layanan emailnya. Layanan email terbaru dari Yahoo! ini mempercantik dan memperbaiki layanan email yang selama ini sudah lama ada. Yahoo! Mail lama yang sudah stabil itu diremajakan dan kembali jadi versi beta!

Yang paling terasa dari Yahoo! Mail Beta ini adalah tampilannya yang lebih fresh, dan memang terasa jauh lebih cepat dan responsif bila dibandingkan dengan versi lamanya, bahkan lebih cepat sampai 2x lipat dibandingkan dengan versi lamanya. Selain itu Yahoo! Mail Beta juga lebih mengedepankan aspek sosial dengan kemudahan mengakses update status dari berbagai layanan jejaring sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter.

Berikut adalah beberapa fitur yang ada pada Yahoo! Mail Beta.
  • Kecepatan
Dapatkan serta kirim email dan lampiran lebih cepat dari sebelumnya.
  • Terlindungi dari spam
Buka hanya pesan yang Anda inginkan, dengan teknologi perlindungan terhadap spam yang terbaru.
  • Kapasitas tak terbatas
Gunakan sebagai arsip pribadi untuk menyimpan foto dan hal penting lainnya.
  • Ponsel
Akses Email di mana pun Anda berada menggunakan perangkat yang mendukung internet.

Untuk mencoba Yahoo! Mail Beta ini, silahkan meluncur ke sini.

Bila setelah mencoba versi baru dan ternyata anda kurang menyukai versi baru ini, bisa dikembalikan ke versi lama dengan cara klik menu “Bantuan/ Help” di bagian kiri atas lalu klik pilihan “Kembali ke Mail Orisinal/ Return to Original Email”.


Tawadhu’

1:13 PM

Tawadhu’ adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi” (HR. Al Baihaqi)

Pengertian Tawadhu’
Tawadhu’ adalah lawan kata dari takabbur (sombong). Ia berasal dari lafadz Adl-Dla’ah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah, atau rendah hati terhadap orang yang beriman, atau mau menerima kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapa pun asalnya.

Seseorang belum dikatakan tawadhu’ kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang, semakin sempurnalah ketawadhu’annya dan begitu juga sebaliknya. Ahmad Al Anthaki berkata : “Tawadhu’ yang paling bermanfaat adalah yang dapat mengikis kesombongan dari dirimu dan yang dapat memadamkan api (menahan) amarahmu”. Yang dimaksud amarah di situ adalah amarah karena ke-pentingan pribadi yang merasa berhak mendapatkan lebih dari apa yang semestinya diperoleh, sehingga membuatnya tertipu dan membanggakan diri (Kitab Ihya ‘Ulumuddin, Al Ghazali).

Sekarang ini kesombongan menjadi “pakaian” yang dikenakan banyak orang. Suka membang-gakan diri, merasa tinggi melebihi orang di sekitarnya, merasa orang lain membutuh-kannya, suka memamerkan apa yang dimilikinya, tidak mau menyapa lebih dahulu menjadi fenomena yang mudah dilihat dimana-mana. Padahal kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk surga. Rasulullah saw bersabda : Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi (HR. Muslim).

Mengukur ketawadhu’an
Sa’id Hawwa dalam bukunya Al Mustakhlash fi Tazkiyatun Nafs, menyebutkan ada beberapa percobaan yang dapat dilakukan untuk mengukur apakah di dalam jiwa seseorang terdapat kesombongan atau ketawadhu’an.

1. Hendaknya ia berdiskusi dengan orang lain dalam suatu masalah. Apabila ia keberatan mengakui kebenaran dari perkataan lawan diskusinya dan tidak berterima kasih atas bantuan lawannya untuk mengetahui hal tersebut, maka di dalam hatinya masih terdapat kesombongan. Sebaliknya, bila ia mengakui dan menerima kebenaran lawannya tersebut, berterima kasih kepadanya dan lisannya mengakui kelemahan dirinya dengan tulus, misalnya dengan mengatakan, Alangkah bagusnya perkataanmu terhadap sesuatu yang belum aku ketahui. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang dibukakan oleh Allah untukku melalui kamu!, maka jika hal itu dilakukan berulang-ulang, sehingga manjadi tabiat dirinya berarti ia telah memiliki sifat tawadhu’ dan terbebas dari kesombongan.

Dalam suatu riwayat disebutkan tatkala Umar bin Khatab ra selesai menyampaikan pidato untuk membatasi mahar wanita, seorang wanita berdiri seraya berkata, “Wahai Umar, apa urusanmu dengan mahar kami, padahal Allah saw berfirman, “…sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak…” (QS. 4 : 20). Menanggapi hal itu Umar berkata, “Benarlah wanita itu dan salahlah Umar.

2. Hendaklah berkumpul bersama teman-teman sebaya dalam berbagai pertemuan, lalu mendahulukan mereka atas dirinya, tidak menonjolkan diri di tengah-tengah mereka, dan berjalan di belakang atau di tengah, bukan di depan. Bila hal itu terasa berat, berarti masih ada kesombongan di dalam dirinya. Sebaliknya, jika hal itu terasa ringan baginya, berarti sifat ketawadhu’an telah ada dalam dirinya. Abu Darda ra berkata: “Seseorang akan bertambah jauh dari Allah selama (ia menyukai) orang yang berjalan di belakangnya”.

3. Hendaklah memenuhi undangan orang miskin atau yang lebih rendah statusnya dari dirinya. Apabila ia merasa berat melakukannya berati masih ada kesombongan dalam hatinya. Dalam suatu riwayat dikisahkan, Rasulullah saw melihat ada orang kaya yang duduk di sebelah orang miskin lantas ia menjauh dari si miskin dan melipat pakiannya, maka Rasulullah berkata kepadanya, “Apakah kamu takut kefakirannya menular padamu?” (HR. Ahmad).

4. Hendaklah membawa barang-barangnya atau barang yang dibutuhkan keluarganya sendiri, tanpa dibawakan orang lain. Apabila ia merasa berat untuk melakukan hal tersebut, meski tidak ada orang yang melihatnya maka itu adalah kesombongan dan apabila ia tidak merasa berat kecuali bila dilihat oleh orang banyak, maka ia termasuk riya’ (ingin diperhatikan orang lain). Keduanya merupakan penyakit jiwa dan lawan dari sifat tawadhu.’

5. Hendaklah memakai pakaian yang sangat sederhana. Apabila ia merasa berat melakukannya di hadapan orang banyak, maka ia riya’ dan bila ia tidak mau melakukannya saat tidak dilihat orang banyak, maka itu adalah kesombongan. Zaid bin Wahab berkata, “Saya meilhat Umar bin Khatab ra menuju pasar dengan membawa susu dan mengenakan pakaian yang padanya terdapat empat belas tambalan, sebagiannya tertambal dengan kulit binatang”.

Memperoleh ketawadhu’an
Sifat tawadhu’ tidak dapat diperoleh secara spontan, tetapi harus diupayakan secara bertahap, serius dan berkesinambungan. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh sifat tawadhu’ adalah :

1. Mengenal Allah SWT
Dalam sebuah kata mutiara disebutkan, “Setiap manusia akan bersikap tawadhu’ seukuran dengan pengenalannya kepada Tuhannya”. Orang yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya pengenalan akan menyadari bahwa Allah Yang Maha Kuasa, Maha Kaya dan Maha Perkasa yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Karenanya, bila mendapatkan kebaikan maka ia memuji Allah SWT dan bersyukur kepadanya, sebab pada hakekatnya ia tidak mampu mendatangkan kebaikan kepada dirinya kecuali atas izin-Nya. Orang yang mengenal Allah akan mengakui dirinya kecil dan lemah, sehingga ia akan tawadhu’ dan merasa tidak pantas untuk berlaku sombong.

2. Mengenal Diri
Dilihat dari asal usulnya, manusia berasal dari sperma yang hina yang selalu dibasuh jika terkena pakaian atau badan. Kemudian manusia lahir ke dunia dalam keadaan tanpa daya dan tidak mengetahui apapun. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (QS. 16 : 78).

Karenanya, manusia tidak berhak sombong. Ia harus bersikap tawadhu’, sebab ia lemah dan tidak mempunyai banyak pengetahuan. Bahkan ia tidak memiliki kemampuan sedikitpun untuk menyelamatkan makanan yang telah direbut oleh seekor lalat.

3. Mengenal Aib Diri
Seseorang dapat terjebak kepada kesombongan bila ia tidak menyadari kekurang dan aib yang ada pada dirinya. Boleh jadi seseorang mengira bahwa dirinya telah banyak melakukan kebaikan padahal ia justru melakukan kerusakan dan kezaliman. “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang–orang yang mengadakan perbaikan” (QS. 2 : 11).

Oleh karena itu, setiap muslim harus selalu melakukan instropeksi diri sebelum melakukan, saat melakukan dan setelah melakukan sesuatu sebelum ia dihisab oleh Allah SWT kelak. Hal itu juga agar ia menyadari kekurangan dan aib dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawadhu’ dan tidak akan sombong kepada orang lain.

4. Merenungkan nikmat Allah
Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Namun banyak di antara manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga membanggakan, bahkan menyombongkan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Sebagian ulama berkata; “Kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah pangkal kesombongan”. Karena itu, agar dapat menghilangkan sifat sombong dan memiliki akhlaq tawadhu’, setiap muslim harus sering merenungkan nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Selain yang telah disebutkan di atas, ada banyak lagi cara untuk menumbuhkan akhlaq tawadhu’, antara lain dengan merenungkan manfaat tawadhu’ dan kerugian sombong, mencontoh akhlaq orang-orang sholeh terdahulu yang tawadhu’, banyak berteman dengan orang-orang yang tawadhu’, dan lain-lain.

Bangsa Indonesia yang saat ini mengalami berbagai krisis sesungguhnya terjadi karena kesombongan pemimpin dan rakyatnya. Fenomena kesombongan, berupa pengagungan kepada diri sendiri, harta, ilmu, keturunan, dan lain-lain terjadi dimana-mana. Orang yang bersikap tawadhu’ sekarang menjadi langka dan malah dikucilkan. Padahal pertolongan dan petunjuk Allah hanya diberikan kepada orang yang tawadhu’, bukan kepada mereka yang sombong. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (QS. 7 : 146).

WaLLAHu a’lam.


Hikmah Dibalik Bencana

4:19 PM

Peringatan demi peringatan dari sang Pencipta diperlihatkan terus secara beruntun di negeri ini.

Saya membaca salah satu tajuk rencana sebuah Koran local bahwa ternyata kita tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya dengan bencana.

Sebagai bangsa, kita tentu terpukul dengan adanya bencana yang bertubi-tubi. Jika tidak memiliki sejarah sebagai bangsa yang tangguh, tentu kita sudah sulit untuk bangkit dari trauma bencana. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang terletak di antara dua lempeng bumi sehingga menjadi negara yang rentan terkena dampak bencana alam.

Menghadapi situasi ini, warga seharusnya tidak perlu terkejut kalau terjadi bencana, tetapi sudah bisa lebih tenang karena telah mengantisipasi datangnya bencana. Hal ini yang disebut hidup berdampingan dengan bencana sehingga sudah membuat persiapan untuk menguasai risikonya.

Selain itu, menyesuaikan tindakan dan perilaku agar tidak jatuh korban lebih banyak jika terjadi bencana. Tetapi bencana tentulah tidak datang begitu saja. Ada alasan dari sang Penguasa alam semesta untuk menghadirkan bencana.

Oleh karena itu, kita tidak bisa melewatkan sebuah peristiwa bencana begitu saja tanpa menarik makna dari kejadian tersebut. Terutama bencana yang disebabkan manusia.

Karena tidak pernah belajar dari bencana akibat orang menjadi sibuk saat terjadi bencana, maka begitu usai langsung terlupakan sehingga selalu terlambat mengantisipasi . Tak heran jika kita selalu terlihat sebagai bangsa yang baru belajar menghadapi bencana. Akibatnya, persoalan yang timbul dari bencana tidak pernah bisa dihadapi dengan baik dan korban sering terjebak dari masalah tersebut.

Keserakahan manusia dalam mengelola lahan secara tak terkendali sehingga menyebabkan penggundulan hutan. Akibatnya, saat hujan datang rakyat kebanjiran dan saat kemarau tiba rakyat kesulitan air.

Jadi, pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari berbagai bencana yang datang bertubi-tubi adalah alam memang tidak bisa dibuat semena-mena. Sebab, alam dengan gayanya sendiri atas izin dan kehendak sang khalik tentu akan melakukan penyeimbangan terhadap dirinya sendiri.

Cara dan gaya penyeimbangan alam terhadap dirinya itu ada yang bisa ditebak, tapi juga tidak sedikit yang tak terdeteksi. Karena itu, kita sebagai makhluk yang paling "pintar" di antara semua makhluk hidup dan nyata di muka bumi ini, hendaknya bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. 

Kedua bencana alam baru saja terjadi lagi secara beruntun di negeri kita. Gempa tektonik yang menyebabkan tsunami menerjang Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat, dan gempa vulkanik yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keduanya mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa.

Bencana alam semacam itu, sekali lagi, memang tidak mungkin ditolak oleh manusia. Tidak ada yang bisa menahan gunung berapi agar tidak memuntahkan lahar dan meletus. Tidak ada yang bisa menahan pergerakan lempeng kulit bumi agar tidak bergerak. Manusia harus menerimanya sebagai sebuah takdir yang pasti.

Tapi menyiasati bencana agar tidak menimbulkan efek kerusakan atau korban jiwa manusia, adalah suatu hal yang mungkin, dan karena itu perlu dilakukan.

Menyiasati efek bencana juga seharusnya menjadi concern masyarakat sendiri. Misalnya kepatuhan terhadap imbauan evakuasi dan ketaatan untuk tidak memasuki daerah terlarang.

Apalagi jika disertai penerangan masyarakat dan latihan-latihan yang terus dimasyarakatkan bagaimana mengevakuasi diri bila terjadi bencana. Semuanya merupakan bagian dari upaya menyiasati bencana alam bila sewaktu-waktu terjadi.

Kita janganlah menjadi bangsa yang tidak pernah belajar dari pengalaman, termasuk belajar dari pengalaman mengalami bencana. Bencana alam memang ada yang tidak bisa dielakkan, tapi bencana alam bisa disiasati.

Bencana, betapapun terasa merugikan, juga pada dirinya ada pelajaran yang harus diambil. Ada hikmahnya yang bisa dipetik, agar kita bisa hidup dan mengelola alam kehidupan kita dengan lebih baik dan lebih bijak.

Saatnya untuk kita lebih banyak introspeksi.

Fatamorgana